Ternyata Mudah Meninggalkan Jakarta, Lalu Menjadi Penduduk Desa

kredit dunialingga.com

Menjadi penduduk desa itu mudah saja. Lha memang asale dari desa. Apalagi dengan terminologi pulang. Pulang selalu menyenangkan bagi semua orang. Terlebih lagi pulang ke kampung halaman. Bangsa kita sampai menghabiskan triliunan rupiah untuk anjangsana pulang kampung serentak tahunan bernama mudik.

Menjadi penduduk desa itu mudah saja. Tidak perlu berakting untuk menjadi penduduk desa yang sah. Cukup menjadi manusia saja. Nanti kapan-kapan saya cerita soal menjadi manusia saja itu. Lain kali.

Kali ini hanya ingin menulis soal pergulatan menanggalkan pekerjaan di ibu kota untuk memulai semuanya lagi dari awal di desa. Saya hidup di Klaten. Tentu akhir-akhir ini Klaten terkenal seantero Nusantara berkat kinerja Bu Bupati, alhamdulillah. Klaten ini sejatinya tidak pernah masuk dalam rencana hidup saya semenjak kuliah.

Diantara semua saudara, saya mungkin satu-satunya yang jarang di rumah dan nyaman berkelana. Kemanapun. Klaten tidak masuk prioritas tempat tinggal. Saya waktu masih muda dulu sampai punya semboyan, Yogya adalah minimal, Jakarta adalah antara, Bandung adalah impian. Yogya sudah, kini Jakarta sudah. Bandung? jadi impian saja.

Mungkin karena kekuatan semboyan itu, Jakarta benar-benar menjadi tempat antara saja. Persinggahan, tidak menetap. Jakarta cukup menjadi tempat mencari istri. Plus bonusnya dapat anak.

Aku ceritakan kawan bagaimana nikmatnya hidup di Jabodetabek. Pertama, rezim mencari istri di sana lebih bebas dari Yogya (Ups). Segala fasilitas juga tersaji di sana. Standar sih ya. Tapi yang paling kerasa memang amat mudah mendapatkan jaringan. Jaringan yang nanti suatu saat menjadi backbone saat harus meninggalkan gemerlapnya Jabodetabek.

Menuju desa

Entah kebetulan (atau tidak ada yang kebetulan?), saya masuk ke Jakarta saat Pak Jokowi dan Ahok naik jadi gubernur. Lalu balik ke kampung saat Pak Anies dan Sandiaga naik jadi gubernur. Apa karena Ahok kalah saya memutuskan piindah domisili? hehe tentu tidak. Tercatat terakhir saya tinggal di Depok dan ber KTP tetap Klaten. (tentu saja paragraf ini tidak ada kaitannya dengan tulisan, kenapa dibaca?)

Yang cukup berat meninggalkan Jakarta memang lebih meninggalkan pekerjaan yang sudah amat sesuai dengan passion saya. Bukan soal menulis, tapi menjadi pewarta. Entah apapun bentuknya. Dalam karier jurnalistik yang saya geluti, alhamdulillah semua media tempat saya bekerja menasbihkan diri sebagai media Islam.

Kok alhamdulillah? lalu media lain yang kredibel itu naudzubillah? bukan begitu. Setidaknya, di media yang lama dan yang baru saya tinggalkan, kita (redaksi) dengan amat bebas dan secara zahir menampilkan ayat-ayat Alquran, hadis, pendapat ulama dalam produk jurnalistiknya. Jelas kebebasan yang amat jarang didapat di media-media lain. Secara subjektif, ajakan kebaikan langsung lengkap dengan nash-nash keagamaan jauh lebih enak dibanding harus mencari diksi lain agar tidak terkesan sebuah media terlalu agamis hehe.

Gampangnya begini, media Islam bisa memfasilitasi para ulama untuk menyuruh orang Islam shalat lengkap dengan dalil Alquran, hadis dan ijma para ulama. Sementara kalau media lain paling banter mungkin,”Setiap pemeluk agama hendaknya mengamalkan ajarannya masing-masing!”

Nah, meninggalkan tempat kerja yang model begini cukup berat. Apalagi yang terakhir, skalanya sudah nasional. Lingkungan mendukung. Gaji ya rata-rata air lah hahaha. Keputusan yang berat bagi saya dan juga istri yang juga paham jeroan pekerjaan saya.

Lalu meninggalkan rumah yang sudah ditempati di Depok? Oh ya, untuk ini saya akan ceritakan di tulisan lain. Apakah sukar menjual rumah yang lingkungannya sudah sangat nyaman buat saya, istri dan anak. Nanti, sabar.

Lalu kenapa harus meninggalkan Jakarta jika pekerjaan dan rumah sudah nyaman? Jawabannya, ibu. Tentu saja bagi saya, ibu adalah panglima tertinggi yang wajib ditaati segala perintahnya. Jika di kantor, saya memiliki prinsip pimpinan adalah komandan yang harus sebisa mungkin ditaati. Sami’na wa atha’na. Tentu saja dengan catatan tidak memerintahkan sesuatu yang madharat. Sebisa mungkin, apa permintaan atasan, kita iyakan dulu. Ini salah satu nasihat dari bapak mertua hehe.

Tapi sekomandannya komandan, masih lebih tinggi kedudukan Panglima Tertinggi. Posisi itu diduduki ibu saya. Wanita lulusan SMEA yang bahkan enggan diberikan smartphone biar gampang video call sama cucunya. Panglima memerintahkan saya mundur, kembali ke barak ya saya segera mundur kembali ke barak. Semudah itu. Dan di sinilah saya akhirnya bersama keluarga kecil saya, kembali menjadi penduduk desa.

Lalu bagaimana pergulatan istri saya saat hidup di desa dan harus rela jauh dari rumah orang tuanya? Kembali lagi. Nanti kita bahas di tulisan lain. Biar apa? Biar trafficnya banyak hue hue.

Salam Ndeso!! 

Leave a Reply

%d bloggers like this: