Setelah Uninstall Instagram Lalu Apa?

Sudah dua bulan tidak ada aplikasi Instagram dan Twitter di gawai. Facebook memang tak pernah pasang pemintasnya di layar. Malas.

Sebulan terakhir hanya memakai aplikasi lokal bernama Viu Graph. Gunanya mirip-mirip instagram. Memakai Viu Graph pun lebih karena pekerjaan. Akunnya pun akun pekerjaan.

Meninggalkan dunia media sosial bagi saya ternyata menenteramkan. Dan tentu saja menghambat peluang buang-buang waktu.

Dunia Twitter memang sudah lama ditinggalkan seiring popularitasnya yang meredup. Twitter hanya diisi buzzer-buzzer. Bising, teramat bising. Platform ini jelas tidak cocok dengan saya yang polos dan lembut hatinya ini.

Beralih ke Instagram. Menyenangkan. Seiring popularitasnya yang kian menanjak. Tetapi lama-lama para buzzer ikut-ikutan hijrah ke platform ini. Ditambah lagi terlalu banyak waktu terbuang untuk stalking-stalking yang bagi saya sebenarnya tak perlu.

Alhamdulillah sejak tidak ada instagram, perilaku menengok gawai berubah. Dari segi durasi, sama saja sebenarnya. Orang dengan karat keimanan amat tipis seperti saya ini rasanya susah untuk sama sekali meninggalkan gawai.

Maka solusinya adalah mengubah aktivitas pemakaian gawai setidaknya menjadi lebih produktif, setianya definisi produktif menurut saya. Dulu, stalking di Instagram memakan waktu dan kuota paling banyak. Sekarang berubah. Aktivitas rutin memegang gawai adalah browsing, membaca.

Karena intelektualitas saya ini ecek-ecek, maka yang dibaca juga yang ringan-ringan saja. Ndak langsung jurnal ilmiah atau telaah ilmu hadits. Ndak kuat.

Sekarang kerap membuka dua situs. Pertama bola, kedua sejarah. Situs bola yang setiap hari dilihat adalah panditfootball.com. situs ini lebih menarik dari situs bola di portal-portal berita karena menyajikan konten yang panjang dan lengkap. Sebagai situs Pandit, jualannya ya analisa. Meski analisa dan cerita tapi temanya ya tetap bola. Yang ringan saja.

Kedua, mulai sering berkunjung ke historia. Sekali lagi yang ringan-ringan saja. Saya bukan pemuja tulisan sejarah. Meski nama saya Sang Penghafal, tapi ingatan sejarah saya amat buruk. Buat mengisi waktu saja. Karena kisah-kisah selalu menarik untuk ditelaah.

Lalu akun media sosial apa yang masih aktif? Facebook masih sekadar untuk buang-buang link pekerjaan. Berkunjungnya pun kalau hanya kalau mau buang hajat. Hajatnya ya buang link tadi.

Viu Graph ada. Seperti paragraf kedua tadi. Coba lihat paragraf kedua.

Selainnya ndak ada. Algoritma, pertemanan dan kecenderungan membuat konten-konten yang disajikan di timeline konten-konten buzzer politik. Sudah sampai tahap eneg. Untung ga sampai muntah.

Lho nanti ga update isu? Tenang, setiap hari minimal 80 konten isu yang saya lahap setiap hari. Dan tidak perlu medsos-medsosan.

Leave a Reply

%d bloggers like this: