Menulis untuk Bertahan Hidup

Sudah menjadi fitrahnya manusia mencari apa saja untuk tetap membuatnya bertahan hidup. Plus karena katanya makhluk sosial, manusia juga secara naluri akan berbuat apa saja untuk membuat orang-orang terkasih juga bertahan hidup. Dalam sebuah ironi yang amat ironi bahkan seorang manusia rela melepas kehidupannya demi orang yang ia kasihi tetap bisa bertahan sebagai makhluk hidup.
Dalam konteks manusia sekarang, salah satu cara paling mudah dalam bertahan hidup adalah kemudahan akses terhadap sumber daya. Manusia modern saat ini dibentuk agar bisa menguasai kekayaan demi mempermudah aksesnya terhadap sumber daya. Lebih ringkasnya lagi, manusia mesti melazimkan diri mendapatkan pendapatan. Baik berupa gaji bagi PNS, karyawan tetap maupun buruh kontrak. Atau laba bersih kadang juga kotor bagi saudagar.
Saya termasuk kategori manusia yang amat nyaman memperoleh penghasilan sebagai karyawan. Sering menjadi karyawan freelance, pernah juga menjadi karyawan tetap. Dalam karier profesional (cie profesional) sebagai pewarta, ya tentu saja berkedudukan sebagai karyawan yang siap menerima gajih setiap bulan.
Tetiba, tuan tanah harus memanggil buruhnya ini kembali ke tanah kelahiran. Alasannya tentu bukan ingin pindah ke media lain yang menawarkan gaji lebih besar hehe. Alasannya membantu usaha di rumah. Pamitnya jadi pengusaha. Ya biar rada gagah sedikit. Sedikit saja. Selebihnya gagah-gagahan.
Alhamdulillah, selama masa transisi ada kawan-kawan baik yang menawarkan beberapa pegangan dengan tetap menulis. Selama transisi, resmi sudah statusnya sebagai penulis lepas. Status pengusahanya belum ada.
Bahkan saat memperkenalkan diri di perumahan yang saya tempatkan sekarang, orang-orang masih bingung pekerjaan macam apa itu penulis lepas? Nanti ada penulis tangkap?
Apalagi kalau dijelaskan soal content specialist, ghost writer, freelance journalist, kontributor? tambah mumet. Maka biar ga mumet, saya memperkenalkan diri sebagai, Nama: Hafidz, Pekerjaan: Mantan Wartawan. Semua mahfum, semua ngangguk.
Nyatanya hingga kini, status pengusaha atau membantu usaha rumah tak juga jalan. Yang silih berganti datang adalah pekerjaan menulis. Yang tidak tetap tentu saja. Kata teman memang tidak setiap orang dilahirkan menjadi pengusaha. Saya satu diantara orang itu mungkin.
Meski sekarang kuadrannya pindah. Dari employee menjadi self employee. Alhamdulillah lah, model penulis lepas ini ya setara dengan dokter kan.
Jika mengacu pada keterampilan utama, kini menulis masih menjadi harapan. Keterampilan ngomongnya sudah lama tidak diasah. Nanti kita buatkan proyek saja untuk keterampilan ngomong ini.
Menulis kini menjadi pekerjaan harian untuk bertahan hidup. Ya benar-benar bertahan hidup. Menulis freelance begini kan tidak mesti keberlanjutannya. Sejak pindah ke desa hingga kini, sudah dua pekerjaan menulis dihentikan. Lalu muncul pekerjaan menulis lain. Ya dinikmati saja.
Sejauh ini kawan-kawan yang baik tadi sudah menawarkan beberapa pengalaman menulis yang justru belum pernah didapatkan saat menjadi jurnalis aktif. Dipercaya menjadi ghost writer bagi orang-orang yang berlimpah anggaran namun tidak sempat menulis demi eksistensi di media. Tidak jauh-jauh dari anggota parlemen. Satu lagi pakar keamanan siber.
Menulis buku. Sebetulnya ghost writer juga karena nama kita sebagai penulis tidak akan muncul dibuku hehe. Menuliskan buku 50 tahun salah satu lembaga amil zakat nasional. Selesai naskahnya, lega hatinya. Sebab dua kali menyanggupi menuliskan buku orang, dua kali pula proyeknya berhenti di jalan. Karena sayanya yang tidak sanggup.
Content specialist. Sekarang banyak web-web pendulang CPC membutuhkan content specialist. Tiga web yang masih merangkak mengajak bergabung. Menulisnya tetap berita online. Dikit-dikit masih mengikuti perkembangan drama nasional lah. Pendapatannya? ya tidak mesti hehe. Cukup lah buat nyobain warung soto yang bertebaran di Klaten.
Ngeblog? Awalnya kepincut sama istri yang hanya dari ngeblog bisa ngajak saja jalan-jalan ke Hongkong. Dari mana? Dari Hongkong!!. Kalau divaluasi mungkin pendapatannya dari ngeblog sudah puluhan jeti. Awalnya semangat coba ngikutin doi, tapi apa daya karena aku bukan perempuan. (Makanya pada komen di blog ini biar bisa diduitin)
Public relations partikelir. Bersama istri diminta bantu lembaga amal yang membutuhkan kerja-kerja public relations. Tidak jauh-jauh dari membikinkan tulisan untuk buletin dan web. Di sisi lain, keahlian corel draw sisa-sisa usaha cetak-cetak dulu masih berguna buat cari rupiah. Bikin poster digital, sesekali desain backdrop dan spanduk. Standar kerjaan anak desain.
Beberapa kali juga diminta handling PR dari sebuah event di luar kota. Paruh waktu tentu saja.  Kerja serabutan sebagai penulis mungkin masih akan dijalani. Hingga mungkin beberapa waktu ke depan. Kalau ga nulis ya ga mamah. Ngomong-ngomong, ada yang mau kasi proyek menulis?
Kasihan pak…kasihaaan… belum makan Hanamasa pak!

One Response

  1. mufti syahid f November 22, 2017

Leave a Reply

%d bloggers like this: