Hepi Besde Bubu Arfa

Ini adalah hutang yang belum terbayar. Agustus adalah bulan-bulan kesenangan. Bulan saat dua makhluk yang menemani tidur setiap malam dilahirkan. Takdir Allah, keduanya dilahirkan pada tanggal yang sama. Tepat menunjuk angka 22.

Ini memang sudah lepas menuju September. Tapi tak apalah, mumpung tak ada pekerjaan ini. Lebih baik terlambat tetapi bertanggung jawab.

Istriku -dilahirkan dengan nama amat laki-laki- Lingga, sejak menikah tak terlalu banyak menuntut harus ada hadiah ulang tahun saat masing-masing dari kami ulang tahun. Dalam kaleder Gregorius tentu saja. Sebagai orang yang mengaku Islam, kami tak paham betul tanggal berapa dalam kalender Hijriyah kami dilahirkan. Untuk yang satu ini semoga Allah mengampuni kami.

Pun, dia juga tak pernah merajuk harus ada perayaan atau dinner khusus memperingati ultah. Atau meminta kejutan. Lagipula mana ada kejutan yang direquest. Klop lah dengan saya. Selain ngirit tentu saja, saya juga malas sebenarnya mengurusi ulang tahun. Meski dalam beberapa kesempatan ulang tahun saya, dia sempat membelikan Black Forest, nraktir di KFC dan membelikan sepatu.

Tahun ini pun sama. Dia tak merajuk. Meski seharusnya lelaki lebih pengertian. Saya mengerti kok dia tidak meminta apa-apa hehe. Tetapi ada satu permintaan yang belum saya kabulkan. Khusus ulang tahun kepala tiga tahun ini, dia sempat meminta kado tulisan. Ya, hanya tulisan. Tak meminta tas KW, sepatu 50 ribuan atau yang paling horor minta diantar ke Toko Emas Semar.  Memang, kadang-kadang memasuki gerbang kepala tiga orang semakin bijak. Alhamdulillah.

Ini sekaligus hadiah untuk anak lanang yang setiap hari bertanyanya sudah seperti dosen ujian pendadaran. Lahir ibu dan anak pada tanggal yang sama memberikan hikmah besar buat kepala keluarga. Satu kado untuk berdua. Mana minta kadonya tulisan lagi, maka nikmat tuhan mana yang kau dustakan.

Baik, kita mulai kadonya

Lingga Permesti. Wanita Sunda, besar dengan didikan pesisir Cilegon dan hidup kini sebagai orang Jawa. Saya meyakini spesies hawa yang seperti istri saya di dunia ini ya hanya dia. Maka dari itu, saya pegangi betul. Saya sayang-sayang. Saya kasih makan, daster dan koneksi wifi. Lha cuma satu di dunia ini. Kalau disuruh nyari lagi ya susah. Yang ini aja dihabiskan dulu.

Saya Jawa amat tulen. Pelosok lagi. Istri Sunda paruh waktu meski sekarang sudah agak full time. Dalam tradisi Jawa, masih ada dan muncul keyakinan jangan mau menikah sama orang Sunda. Entah karena tragedi Hayam Wuruk atau apa entahlah.

Tak usah jauh. Kawan SMA saya harus berkonfrontasi dengan ibunya karena nekat mau menikahi gadis Sunda. Pernikahan Jawa-Sunda bagi sebagian orang mungkin pelik. Tapi tidak bagi kami. Istri saya mau-mau saja dikasih mahar terus digandeng kemana-mana. Stereotip sifat-sifat yang harus dihindari dari wanita Sunda tak ada di istri saya.

Katanya wanita Sunda matre, Alhamdulillah istri saya ini nerimonya ngalahin wanita Jawa. Saya tidak perlu belikan dia jaket sebab jaketnya waktu kuliah masih dipake kemana-mana. Ngontrak di rumah 45 m ga protes. Melepaskan pekerjaan di kantor jadi kerja di rumah asoy aja. Jual rumah yang sudah dibeli malah ngedukung. Pindah ke kampung yang tidak ada bioskop, ga cemberut. Suaminya ga punya pekerjaan tetap sampai sekarang masih bisa senyum. Makannya tambah banyak lagi. Mungkin karena dia bukan PNS BNN yang cantik.

Lalu katanya, menantu wanita dari suku lain ga akan bisa akrab sama mertua perempuan. Ah, kata siapa. Ibu saya serasa menemukan teman gosip baru setelah ketemu istri saya. Tentu saja saya yang digosipin. Laporan harian, mingguan dan tahunan perilaku suami diadukan langsung ke atasan yang bersangkutan, si mertua. Berkomplot dalam spionase antara mertua dan menantu wanita adalah kejahatan yang mengerikan.

Saya bersyukur dengan semua sifat yang ada dalam diri istri. Lha kalau tidak bersyukur sudah saya nikahi ini. Dia amat sabar menghadapi saya, meski beberapa kali nampak tak sabar menghadapi anak lelakinya hehe.

Saya lelaki pendiam yang tak bisa memberikan kejutan-kejutan kecil nan menyenangkan bagi istri. Saya bahkan kerap menjadi anak lelakinya sebelum Arfa -anak saya- saking manjanya. Saya hanya mengikuti titah Umar Bin Khattab ,”jadilah bocah di depan istrimu”. Sayangnya saya hanya sanggup berhenti di situ. Belum menjadi “Singa di luar”.

Saya gembira karena kini dia memasuki usia kepala tiga. Artinya saya ada teman. Ditambah sekarang sudah ada Arfa dan semoga segera hadir adik-adiknya.

Saya hanya berdoa semoga dia dan anak-anaknya menjadi penyejuk mata. Dan semoga saya dikuatkan menjadi imam yang bertakwa. Tetaplah menjadi Neng Lingga aa dan Bubu yang menjadi idola anak-anak. Segera kita agendakan halan-halan ya! Semoga berkah usia, tahniah!

Leave a Reply

%d bloggers like this: